Nasib Buruk Bapak dan Ibu Omar Bakri

        Setelah seharian waktu liburnya di hari minggu dihabiskan untuk bersih-bersih pekarangan rumah, keesokan harinya bapakku pergi kesekolah, seperti biasa, guna memimpin guru-guru melaksanakan kegiatan belajar dan mengejar. Sepulang dari sekolah, kami makan siang bersama, sebuah tradisi yang masih kami pertahankan sampai sekarang. Di sela makan siang, bapak bercerita bahwa salah seorang pengajar di SD-nya ada yang kabur. Kabur bersama seluruh keluarganya. Entah kenapa sebabnya. Namun diduga keras si guru itu melarikan diri supaya terhindar dari para penegih hutang. Rupanya si guru itu frustasi karena himpitan hutang yang konon jumlahnya sampai ratusan juta rupiah. Kalo dihitung-hitung, sampai pensiunpun si guru tak akan mampu membayarnya.

Aku pun tertarik untuk bertanya soal si guru itu. “Memangnya untuk apa uang sebanyak itu?”. Rupanya, kata bapakku, uang itu buat beli mobil. Padahal dia dan keluarganya tak begitu butuh mobil. “Ah kalo begitu sih salah dia sendiri” pikirku. Tapi masalahnya kemudian, dengan larinya si guru itu, yang tambah pusing adalah kepala sekolahnya, alias bapakku. Bagaimana tidak pusing, kepala sekolah mesti lapor ke kepala dinas bahwa gurunya minggat satu, lalu beban mengajarpun jadi beban si kepala sekolah. Tak hanya itu, hutang yang tak sanggup dibayar si guru itu jadi beban bersama semua guru termasuk si kepala sekolah.

Rupa-rupanya fenomena hutang yang melilit para guru di daerahku bukan hanya dialami si sial guru yang minggat itu. Sebab, ternyata fenomena guru minggat karena tidak hanya sekali terjadi di dearahku. Ini sudah yang ketiga kali, dengan pelaku yang berbeda. “Wah ada apa ini?”, benakku bernyata-tanya. Selidik punya selidik, total hutang guru-guru se propinsi di daerahku hampir dua trilyun. Bukan main banyaknya, gak kebayang kalo buat beli krupuk, ditempel-tempel jadi satu bulatan, lalu ditendang ke luar angkasa, barangkali bisa jadi planet krupuk sebesar Mars.

Lain lagi cerita di tempat emakku mengajar. Di sekolah emakku mengajar, yang juga dulu tempatku bersekolah waktu SD, ada fenomena yang lucu tapi juga menyakitkan. Kalo awal bulan, normalnya para bendahara sekolah datang ke bank buat ambil uang gaji. Namun ibarat pepatah, lain lubuk lain ikanya, lain pula bendahara SD tempat emakku. Ibu atau pak bendahara berangkat ke bank, justeru sebaliknya, mesti bawa uang. Bukan karena banyak uang, tapi karena banyak utang. Bukan utang sendiri, tapi utang “bersama” alias utang kolektif. Jadi, rupanya PNS terutama guru-guru di sekolah di kabupatenku tak akan dapat utangan dari bank tanpa ada tandatangan dari kepala sekolah dan tanpa ada jaminan. Apa jaminannya? Jaminannya tidak hanya SK pribadi tapi juga “SK kolektif”. Artinya kalo ada satu orang guru yang ngemplang utang, maka akan diambil sebagian gaji guru-guru yang lain buat nalangi setoran hutang seseorang guru tersebut.

Kok bagaimana bisa ngemplang? Bukankah ada aturan bahwa hutang PNS tak boleh melebihi rasio yang ditentukan, yaitu perbandingan dengan jumlah gaji dan masa aktif yang masih tersisa sebelum pensiun? Memang betul aturan itu ada. Tapi, sama-sama tahulah karakter bangsa kita ini kan serba bisa. Semuanya serba bisa diaturkan?

Lalu apa semua PNS itu pada beli mobil? Atau pada boros-borosan. Ah rasa-rasanya tidak juga. Lalu buat apa hutang banyak-banyak? Rupa-rupanya, yang jadi soal adalah buruknya gaji guru-guru itu. Kita bisa bayangkan, misal ada sepasang suami isteri yang kedua-duanya guru, kebetulan sang suami tiba-tiba meninggal, sementara anaknya tiga, satu sekolah SMP, satu mau masuk SMU dan satu lagi diterima kuliah di kedokteran UI. Saya kira gaji yang diterima tak akan cukup buat biaya sekolah. Apalagi di zaman yang kata Mas Eko Prasetyo orang miskin di larang sekolah ini.

Semantara itu, sayup-sayup terdengar lolongan “anjing-anjing politik”yang sedang rebutan daging busuk menjelang pesta demokrasi di tingkat daerah. Ada diantara mereka yang menjanjikan pelunasan semua hutang PNS sekabupaten atau barangkali se-propinsi jika ia terpilih jadi si raja kecil di salah provinsi dengan PAD terendah di republik ini. Ada pula yang janji mau buat jebatan yang menghubungkan Merak dan Bakauheni memotong Selat Sunda. Ah mimpi kali, pikirku. Mereka rupanya masih pake cara-cara yang belum begitu cerdas, untuk tak mengatakan mereka bodoh, atau malah membodohi? Meraka kira rakyat tak punya mata dan telinga.

Belum genap seminggu aku berada di kampung halaman setelah sekitar sebelas tahun merantau menyelesaikan sekolah menengah atas di ibukota provinsi dan perguruan tinggi di Yogyakarta. Rupanya narasi-narasi kelam tentang nasib rakyat yang mungkin tidak terlalu jauh berbeda dengan dengan kondisi rakyat di tempat lain di negeri ini telah dengan mudah kurangkaikan dalam cerita singkat ini. Mudah, ya mudah sekali, sebab memang realitas itu begitu nampak kasat mata. Begitu nyata, dan begitu menyesakkan untuk diceritakan, sebagaimana mudahnya mendskripsikan luka yang menganga di kaki kurus yang tak terurus dan bernanah dan berbau busuk. Luka yang sebenarnya cuma salah satu luka di antara sekian banyak borok yang menggerogoti tubuh bangsa besar ini.

Kapankah para pemimpin negeri ini mau pakai hati nuraninya?

 

 

Syahrul Fatriansah

Lampung Tengah, April 2008