Nasib Buruk Bapak dan Ibu Omar Bakri
Aku pun tertarik untuk bertanya soal si guru itu. “Memangnya
untuk apa uang sebanyak itu?”. Rupanya, kata bapakku, uang itu buat beli mobil.
Padahal dia dan keluarganya tak begitu butuh mobil. “Ah kalo begitu sih salah
dia sendiri” pikirku. Tapi masalahnya kemudian, dengan larinya si guru itu,
yang tambah pusing adalah kepala sekolahnya, alias bapakku. Bagaimana tidak
pusing, kepala sekolah mesti lapor ke kepala dinas bahwa gurunya minggat satu,
lalu beban mengajarpun jadi beban si kepala sekolah. Tak hanya itu, hutang yang
tak sanggup dibayar si guru itu jadi beban bersama semua guru termasuk si
kepala sekolah.
Rupa-rupanya fenomena hutang yang melilit para guru di
daerahku bukan hanya dialami si sial guru yang minggat itu. Sebab, ternyata
fenomena guru minggat karena tidak hanya sekali terjadi di dearahku. Ini sudah
yang ketiga kali, dengan pelaku yang berbeda. “Wah ada apa ini?”, benakku
bernyata-tanya. Selidik punya selidik, total hutang guru-guru se propinsi di
daerahku hampir dua trilyun. Bukan main banyaknya, gak kebayang kalo
buat beli krupuk, ditempel-tempel jadi satu bulatan, lalu ditendang ke luar
angkasa, barangkali bisa jadi planet krupuk sebesar Mars.
Lain lagi cerita di tempat emakku mengajar. Di sekolah
emakku mengajar, yang juga dulu tempatku bersekolah waktu SD, ada fenomena yang
lucu tapi juga menyakitkan. Kalo awal bulan, normalnya para bendahara sekolah
datang ke bank buat ambil uang gaji. Namun ibarat pepatah, lain lubuk lain
ikanya, lain pula bendahara SD tempat emakku. Ibu atau pak bendahara berangkat
ke bank, justeru sebaliknya, mesti bawa uang. Bukan karena banyak uang, tapi karena
banyak utang. Bukan utang sendiri, tapi utang “bersama” alias utang kolektif.
Jadi, rupanya PNS terutama guru-guru di sekolah di kabupatenku tak akan dapat
utangan dari bank tanpa ada tandatangan dari kepala sekolah dan tanpa ada
jaminan. Apa jaminannya? Jaminannya tidak hanya SK pribadi tapi juga “SK
kolektif”. Artinya kalo ada satu orang guru yang ngemplang utang, maka
akan diambil sebagian gaji guru-guru yang lain buat nalangi setoran hutang
seseorang guru tersebut.
Kok bagaimana bisa ngemplang? Bukankah ada aturan
bahwa hutang PNS tak boleh melebihi rasio yang ditentukan, yaitu perbandingan
dengan jumlah gaji dan masa aktif yang masih tersisa sebelum pensiun? Memang
betul aturan itu ada. Tapi, sama-sama tahulah karakter bangsa kita ini kan
serba bisa. Semuanya serba bisa diaturkan?
Lalu apa semua PNS itu pada beli mobil? Atau pada
boros-borosan. Ah rasa-rasanya tidak juga. Lalu buat apa hutang banyak-banyak?
Rupa-rupanya, yang jadi soal adalah buruknya gaji guru-guru itu. Kita bisa
bayangkan, misal ada sepasang suami isteri yang kedua-duanya guru, kebetulan
sang suami tiba-tiba meninggal, sementara anaknya tiga, satu sekolah SMP, satu
mau masuk SMU dan satu lagi diterima kuliah di kedokteran UI. Saya kira gaji
yang diterima tak akan cukup buat biaya sekolah. Apalagi di zaman yang kata Mas
Eko Prasetyo orang miskin di larang sekolah ini.
Semantara itu, sayup-sayup terdengar lolongan “anjing-anjing
politik”yang sedang rebutan daging busuk menjelang pesta demokrasi di tingkat
daerah. Ada diantara mereka yang menjanjikan pelunasan semua hutang PNS
sekabupaten atau barangkali se-propinsi jika ia terpilih jadi si raja kecil di
salah provinsi dengan PAD terendah di republik ini. Ada pula yang janji mau
buat jebatan yang menghubungkan Merak dan Bakauheni memotong Selat Sunda. Ah
mimpi kali, pikirku. Mereka rupanya masih pake cara-cara yang belum begitu
cerdas, untuk tak mengatakan mereka bodoh, atau malah membodohi? Meraka kira
rakyat tak punya mata dan telinga.
Belum genap seminggu aku berada di kampung halaman setelah
sekitar sebelas tahun merantau menyelesaikan sekolah menengah atas di ibukota
provinsi dan perguruan tinggi di Yogyakarta. Rupanya narasi-narasi kelam
tentang nasib rakyat yang mungkin tidak terlalu jauh berbeda dengan dengan
kondisi rakyat di tempat lain di negeri ini telah dengan mudah kurangkaikan
dalam cerita singkat ini. Mudah, ya mudah sekali, sebab memang realitas itu
begitu nampak kasat mata. Begitu nyata, dan begitu menyesakkan untuk
diceritakan, sebagaimana mudahnya mendskripsikan luka yang menganga di kaki
kurus yang tak terurus dan bernanah dan berbau busuk. Luka yang sebenarnya cuma
salah satu luka di antara sekian banyak borok yang menggerogoti tubuh bangsa
besar ini.
Kapankah para pemimpin negeri ini mau pakai hati nuraninya?
Syahrul Fatriansah
Lampung Tengah, April 2008
